Cara Ampuh Mengembalikan Semangat Belajar Siswa Seusai Liburan

Bapak/Ibu Guru sudah siap menghadapi semester yang baru? Setelah liburan, biasanya akan ada banyak siswa yang kehilangan semangat belajar. Hal ini wajar karena selama liburan rutinitas siswa berubah menjadi lebih banyak bermain dibandingkan belajar. Untuk itu, Bapak/Ibu harus mencari cara yang tepat untuk mengembalikan semangat belajar siswa setelah libur panjang. Nggak perlu khawatir lagi, berikut adalah beberapa cara yang bisa diterapkan oleh Bapak/Ibu untuk menyambut para siswa seusai liburan.

1. Tunjukkan semangat Bapak/Ibu dengan menghias kelas

semangat belajar siswa

Buatlah suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan (Sumber: eraallstarproperties.com)

Tidak hanya pada siswa, Bapak/Ibu juga bisa mengalami penurunan semangat saat harus kembali menjalani rutinitas usai liburan. Jika Bapak/Ibu saja kurang semangat, bagaimana dengan siswa? Tularkanlah semangat dari Bapak/Ibu Guru kepada siswa saat mereka hadir di sekolah. Semangat dari Bapak/Ibu juga akan membuat suasana kelas menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Selain itu, Bapak/Ibu bisa membuat tampilan baru pada kelas dengan mengatur ulang meja hingga menghias beberapa sudut kelas. Suasana yang menyenangkan dapat menjadi bekal awal untuk memulai pelajaran.

2. Mulai pelajaran dengan konten yang menyenangkan

semangat belajar siswa

Mulai pelajaran dengan konten yang ringan dan menyenangkan (Sumber: youngmarketing.co)

Jika Bapak/Ibu sudah membuat suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, maka langkah selanjutnya adalah memulai pelajaran dengan cara yang lebih ringan, menarik, dan menyenangkan. Pembelajaran yang ringan dan menarik dapat membantu siswa kembali beradaptasi dengan pelajaran sekolah secara lebih cepat. Siswa juga tidak kaget dan stres serta menjadi lebih bersemangat untuk kembali belajar.

Bapak/Ibu bisa menggunakan materi dari ruangbelajar sebagai sumber yang lebih menyenangkan untuk siswa. Video beranimasinya bisa digunakan untuk mengingat kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya. Belajar menjadi lebih menyenangkan untuk siswa dengan misi belajar yang dibuat seperti bermain game. Seru ‘kan?

3. Berbagi cerita liburan

semangat belajar siswa

Berbagi cerita liburan (Sumber: applesandbananaseducation.com)

Cara yang satu ini mungkin sudah pernah Bapak/Ibu coba sebelumnya. Namun, menggunakan keinginan siswa untuk bercerita mengenai liburan mereka bisa membuat siswa menjadi lebih bersemangat masuk sekolah, lho. Mintalah siswa untuk berbagi cerita liburannya dalam berbagai bentuk, bisa tulisan, film pendek, atau langsung bercerita di depan kelas dengan menampilkan beberapa buah tangan yang siswa dapatkan saat liburan.

4. Berikan hadiah atau penghargaan

semangat belajar siswa

Berikan hadiah dan penghargaan (Sumber: theodysseyonline.com)

Jika Bapak/Ibu memberikan tugas untuk siswa selama liburan, tidak ada salahnya ‘kan untuk memberikan sedikit penghargaan untuk mereka saat kembali ke sekolah. Bapak/Ibu juga bisa mencontoh salah satu kebiasaan di Jerman yang memberikan bingkisan kepada siswa saat mereka masuk sekolah bernama Schultüte. Cara ini bisa memberikan semangat pada siswa untuk kembali belajar dan menciptakan mindset bahwa sekolah adalah sesuatu yang menyenangkan.

5. Ingatkan siswa bahwa ujian sudah dekat

semangat belajar siswa

Beri semangat pada siswa yang akan menghadapi ujian (Sumber: classroommosaic.com)

Bagi siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional atau SBMPTN, Bapak/Ibu dapat menyuntikan semangat pada mereka dengan mengingatkan bahwa UN sudah dekat dan dalam hitungan minggu mereka akan menghadapinya. Maka dari itu, semangat mereka tidak boleh padam. Mereka harus berusaha lebih keras dan belajar lebih rajin agar bisa menghadapi ujian tanpa hambatan.

sumber : ruangguru

GURU

Kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuan para pendidiknya untuk mengubah karakter generasi penerusnya ke depan. Tanpa figur pendidik, mungkin bangsa besar seperti Indonesia tidak akan dapat menikmati hasil jerih payah putra-putri nusantara yang sudah mendorong perkembangan tersebut.

Pencapaian Indonesia hingga saat ini tidak terlepas dari peran guru yang telah membimbing anak muridnya menjadi manusia dewasa dan berperan aktif dalam pembangunan Indonesia.

Namun, demi melahirkan para “nation builders” Indonesia, hingga saat ini masih banyak guru-guru yang berjuang demi kesejahteraan diri maupun keluarga yang disokongnya.

Apresiasi yang ditujukan kepada mereka juga dinilai masih rendah mengingat betapa penting dan berharganya peran seorang Guru atau Pengajar dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

“Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak! Terutama sekali di zaman kebangkitan! Hari kemudiannya manusia adalah di dalam tangan guru itu, menjadi manusia”.

Demikian sepenggal kalimat Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno tentang guru yang dikutip dari buku karangannya, Dibawah Bendera Revolusi.

Guru adalah sebuah profesi yang mulia karena di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditentukan. Guru juga dianggap sebagai pahlawan pembangunan, karena di tangan mereka akan lahir pahlawan-pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini. Guru yang ideal, bukan sekedar guru yang memenuhi syarat-syarat teknik: seperti pintar, pandai, atau pakar di bidang ilmu yang dimiliki; melainkan yang jauh lebih penting dari itu semua, guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai “agent of change”.

Disini, tugas guru adalah menumbuhkan keingintahuan anak didik dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka minati. Jika anak didik diberi rasa aman, dihindarkan dari celaan dan cemoohan, berani berekspresi dan bereksplorasi secara leluasa, ia akan tumbuh menjadi insan yang penuh dengan percaya diri dan optimistis.
Seorang guru bisa menjadi pahlawan pembangunan yang memiliki jiwa juang, memiliki semangat untuk berkorban, dan menjadi pionir bagi kemajuan masyarakat.

Oleh sebab itu, tugas yang diemban oleh seorang guru tidak ringan, karena guru yang baik tidak hanya memberitahu, menjelaskan atau mendemonstrasikan, tapi juga dapat menginspirasi.
Seorang guru harus mampu memandang perubahan jauh ke depan, dengan demikian guru dapat merencanakan apa yang terbaik untuk anak didiknya.

Seorang guru juga harus dapat mengemban tugasnya sebagai motivator yang mampu memotivasi anak didiknya agar penuh semangat dan siap menghadapi serta menyongsong perubahan hari esok.
Peran seperti inilah yang disebut oleh Presiden Soekarno, sebagai “Guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak.”